Manjamas dan Mewarangi Pusaka

Cara Mencuci dan Mewarangi Keris Pusaka


Memandikan dan mewarangi keris tidak dimaksudkan untuk menyembah atau mengagungkannya namun lebih kepada perawatan atas fisik benda bernilai sejarah tersebut dan melestarikan budaya atau cara tradisional dalam proses perawatan itu sendiri. Jadi suatu benda kuno menjadi pusaka bukan karena kekuatan supranaturalnya saja. Namun karena benda tersebut adalah peninggalan nenek moyang yang menjadi bukti sejarah, pencapaian dan kejayaan budaya bangsa kita di masa lalu. Sehingga menjadi suatu kebanggaan bangsa di masa kini. Bukti tersebut patut dan wajib dilestarikan agar kita tidak kehilangan akar sejarah dan budaya sebagai suatu bangsa. Itulah yang dimaksudkan sebagai makna pusaka dalam konteks intelektual. Dalam budaya Jawa dikenal beberapa cara atau rangkaian upacara dalam rangka mencuci dan mewarangi pusaka. Ada yang sederhana, ada pula yang penuh dengan rangkaian ritus yang diperlengkap dengan puluhan macam sesajen seperti yang dilaksanakan oleh pihak kraton Solo dan Jogja setiap bulan Suro (Muharram).


Membersihkan Keris


Membersihkan keris dalam bahasa Jawa ada beberapa macam istilahnya. Ada yang mengatakan nyirami, ngawisi nyuceni atau marangi. Namun artinya sama yakni membersihkan keris itu, membuang karat dan kotorannya, memberinya warangan (asenicum), kemudian melumasinya dengan minyak cendana atau minyak melati, agar wangi.


A. Waktu Mencuci dan Mewarangi Keris


Jika perawatan dan pemeliharaan keris itu baik, maka untuk membersihkannya cukup satu tahun sekali saja. Umumnya dipilih pada bulan Suro atau bulan Muharam. Hari terbaik untuk keperluan itu, dipilih hari Jumat Kliwon atau hari Anggara Kasih. Tetapi keris-keris yang kurang baik perawatannya (Jarang diminyaki), sehingga mudah berkarat, mudah kotor, harus lebih sering dibersihkan dan untuk pembersihan yang "darurat" semacam itu, tidak usah lagi menunggu datangnya hari baik. Karena semakin lama keris yang kotor dan berkarat itu menunggu, semakin parah karatdan kotornya sehingga dapat merusak bilah keris.


Namun walau bagaimanapun hindarilah membersihkan keris pada malam hari dan sore hari. Tengah hari, waktu lohor juga kurang baik untuk membersihkan keris. Pilihlah waktu untuk membersihkan keris pada pagi hari, ketika badan dan pikiran kita masih segar. Pada umumnya, ahli-ahli membersihkan keris, melakukan pekerjaannya mulai jam 8 pagi dan harus selesai sebelum 11 pagi. 


Mungkin karena proses fotokimia, maka keris yang dibersihkan ada saat-saat antara jam 8 pagi sampai jam 11 pagi dan membersihkan secara baik dan tepat, hasilnya akan memuaskan. Pamor keris akan menonjol, kehitaman keris akan sedang, tidak pucat dan tidak terlalu hitam. Nyatalah, bahwa cahaya matahari sangat berpengaruh pada baik atau tidaknya hasil pembersihan keris itu. Keris yang dibersihkan sebelum pukul 8 pagi, hasilnya akan tampak pucat. Sedangkan keris yang dibersihkan setelah jam 11 pagi, hasilnya akan terlalu hitam dan pamornya akan kurang menonjol.


B. Tempat Mencuci dan Mewarangi Keris


Sebagaimana hasilnya dengan tempat penyimpan keris, maka tempat untuk membersihkan keris, juga jangan sembarangan. Membersihkan keris di tempat yang berdebu, justru akan menumpuk debu kotor pada keris yang kita bersihkan. Tempat yang gelap akan membahayakan dan daya penglihatan kita jadi kurang awas, kurang teliti dalam membuang kotoran-kotoran dan karat yang melekat pada keris yang kita bersihkan. Tempat yang terlalu banyak cahanyanya, umpamanya di panas sinar matahari langsung akan membuat kita merasa silau, sehingga kurang awas. Sinar matahari langsung juga cepat membuat kita merasa lelah, menurun kondisi kesegaran tubuh kita. Sinar matahari langsung juga menyebabkan keris yang kita bersihkan menjadi gosong (terlalu hitam).


Tempat bersih, terhindar dari tiupan angin dan debu, cukup terang karena berdekatan dengan jatuhnya sinar matahari dan yang penting lagi, tempat harus jauh dari anak-anak bermain, berlari-larian dan bercanda. Suasananya harus tenang.


C. Alat yang Dipergunakan dalam Mencuci dan Mewarangi Keris


Sebelum pembersihan keris dimulai, lebih dahulu kita harus menyiapkan alat-alat yang diperlukan yaitu alat untuk merendam keris sebelum dibersihkan, sikat kasar, sikat halus, kertas penghisap tinta/kain pengkisap, warangan (arsenicum), minyak cendana/ miyak melati, minyak kelapa murni/minyak singger, kain lap untuk membersihkan tangan, sebuah ember berisi air bersih serta beberapa buah jeruk nipis/jeruk keris.


Alat untuk merendam keris yang akan dibersihkan, kebanyakan dibuat dari bambu. Pilihlah bambu yang  cukup besar dengan garis tengah lobang bambu berukuran sekitar 10 sampai 12 cm. Bilamana jumlah keris yang kita bersihkan kebih dari sebilah, maka buatlah beberapa alat merendam, sesuai dengan jumlah keris yang akan dibersihkan. Setelah itu, buatlah rak untuk menyandarkan alat perendam itu. Saat ini untuk penggunaan bambu dapat diganti dengan bejana plastik atau kaca aquarium, yang penting, tempat merendam itu harus dapat menampung seluruh panjang bilah keris. 


D. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 


1. Lepaskan keris dari warangka dan ukirannya

Untuk melepaskan pesi dari ukiran, putar ukiran ke arah yang lebih ringan putarannya sambil ditarik / dicabut.


2. Rendam keris dengan air kelapa hijau semalaman lalu bilas dengan air sampai bersih

Saat merendam keris pastikan seluruh bagiannya terendam air kelapa. Air Kelapa Hijau bersifat asam lemah dan bermanfaat untuk melepaskan kotoran, kerak, dan mempermudah lepasnya karat yang terbentuk dipermukaan keris. Karena sifat asamnya yang lemah diperlukan perendaman semalaman agar betul2 meresap dan dapat melepaskan kotoran terutama yang terdapat di pori2 logam. Sifat itu pula yang membuatnya relatif aman untuk keris.


3. Gosok permukaan keris dengan irisan jeruk nipis sampai bersih / putih mengkilap


Gosok permukaan keris dengan irisan jeruk nipis sampai bersih


Menggosoknya jangan terlalu keras / kasar. Dapat pula digosok menggunakan sikat gigi yang halus dengan arah gosokan searah bila ada kerak / karat yang membandel. Boleh juga ditambah air perasan buah pace / mengkudu yang sudah matang. Lalu bilas dengan air bersih yang mengalir.

Jeruk Nipis sifat asamnya agak kuat, persentuhan dengan logam keris dalam jangka waktu yang lama dapat merusak logam keris. Digunakan untuk membersihkan keris dari karat, buah jeruk nipis diiris 4-6 bagian dan digosok2 pada permukaan keris. Hasilnya kotoran dan karat akan terlepas dan permukaan keris akan kelihatan putih mengilap. Proses ini disebut Mutihke'.

Air Perasan Buah Pace fungsinya hampir sama seperti air perasan jeruk nipis, namun karena airnya lebih banyak membuat pengerjaan lebih mudah. Teksturnya yang lunak membuatnya mudah hancur bila digosok2kan ke permukaan logam sehingga fungsi jeruk nipis tak tergantikan sepenuhnya.


4. Cuci keris sampai bersih dengan buah lerak / sabun lerak

Saat mencuci, gosok keris perlahan dan searah dengan sikat gigi yang halus. Bila ada kotoran di celah2nya, congkel dengan tusuk gigi. Bilas dengan air bersih sampai kotoran2 (ampas jeruk dan pace) hilang. Bila kotoran2 yang bersifat asam itu sampai tertinggal maka dapat merusak keris karena bersifat korosif.

Buah Lerak berfungsi sebagai sabun alami yang lembut dan tidak merusak besi, tidak seperti detergen yang bersifat keras. Saat ini banyak dijual sabun lerak cair siap pakai sebagai sabun pencuci batik tulis namun bila ingin menggunakannya, pilih yang tidak diberi campuran zat kimia tambahan.


5. Keringkan sampai betul2 kering dengan menekan2 bilah keris dengan kain bersih

Boleh diusap lembut dengan kain bersih yang menyerap air. Dalam proses mengeringkan, keris jangan sampai terkena tangan telanjang lagi. Karena minyak / lemak yang ada ditangan dapat menempel di bilah keris yang sudah bersih dan menimbulkan karat.


6. Olesi keris dengan cairan warangan menggunakan kuas secara tipis dan merata (prosesnya disebut Marangi)

cairan warangan

cairan warangan

Warangan adalah hasil tambang yang berbentuk kristal dan secara alamiah mengandung arsenikum dalam kadar relatif rendah. Warangan terbaik yang dikenal berasal dari Tiongkok. Pada masa dahulu kala banyak digunakan untuk racun tikus. Arsenikum murni dikenal sebagai zat beracun yang dapat mematikan. Namun beberapa obat2an tertentu ada yang mengandung arsenikum dengan persentase yang rendah. Dengan demikian tidak hanya sebagai racun, arsenikum juga memiliki manfaat sebagai obat dalam kadar dan pada persenyawaan dengan zat, tertentu. Fungsi cairan warangan adalah untuk menciptakan reaksi kimia antara besi dan larutan warangan pada permukaan bilah. Reaksi tersebut menghasilkan senyawa oksida besi – arsenik berupa lapisan tipis yang berfungsi sebagai anti karat pada permukaan bilah keris. Selain sebagai anti karat, lapisan tersebut juga menimbulkan warna kontras yang indah pada permukaan bilah. Hal ini disebabkan reaksi kimia hanya terjadi pada bagian bilah yang mengandung besi. Gelap terangnya permukaan suatu logam akibat reaksi tersebut tergantung dari tingginya kandungan besi dalam logam tersebut. Seperti diketahui keris, tombak, dan pedang yang berkualitas baik biasanya dibuat dari minimum 3 jenis lempengan besi-baja ditambah 1 lempengan nikel atau meteorit (berkadar besi sangat rendah atau bahkan tidak mengandung besi) yang ditempa berlapis lipat berulang kali menjadi satu kesatuan (nglereh). Akibatnya lipatan2 besi yang berbeda komposisi kimianya memunculkan kontras yang berbeda setelah pewarangan. Sedangkan garis2 lipatan nikel / meteorit yang tidak bereaksi terhadap warangan menimbulkan garis2 putih yang kadang mengkilap seperti krom. Kesemuanya itu membentuk gambaran / pola pada permukaan keris yang dikenal sebagai Pamor.


Marangi keris tidak dimaksudkan untuk meracuni bilah keris tersebut sehingga akan mematikan bila tergores olehnya. Persentase arsenikum dalam kristal warangan relatif rendah, apalagi dalam aplikasinya kristal warangan dilarutkan dahulu dalam air perasan jeruk nipis yang banyak sekali (+/- 1gr serbuk warangan dalam 250ml air perasan jeruk nipis). Dengan demikian kadar arsenikum yang akan menempel di bilah keris rendah sekali kadarnya. Walaupun demikian kehati-hatian dalam menangani sebilah keris tetaplah diperlukan.


Pada jaman dahulu memang dikenal cara-cara untuk memasukkan racun dalam keris. Utamanya bila keris tersebut memang dirancang dan dibuat untuk digunakan dalam peperangan. Hal ini dimungkinkan karena permukaan logam keris berpori sehingga mampu menyerap racun. Biasanya proses memasukkan racun ke dalam keris hanya dilakukan pada saat keris masih dalam proses pembuatan. Yaitu pada tahap paling akhir yang disebut penyepuhan atau dalam istilah metalurgi dikenal dengan quenching. Proses penyepuhan dilakukan dengan memanaskan ulang keris, yang sudah jadi bentuk fisiknya, sampai membara (namun tidak sampai berpijar) lalu dicelupkan dalam bumbung bambu berisi minyak kelapa.


Pada tahap ini keris secara bentuk sebenarnya sudah sempurna hanya perlu ditingkatkan kekerasannya agar bisa diasah setajam-tajamnya dan tidak mudah tumpul. Dengan pendinginan kejut, unsur karbon pada permukaan besi akan terjebak dalam struktur sementit yang meningkatkan kekerasan besi tersebut. Proses ini harus dilakukan oleh Empu yang ahli karena beresiko tinggi terhadap keris itu sendiri. Pencelupan yang terlalu lambat membuat besi tidak mencapai kekerasan maksimal. Terlalu cepat, keris bisa ngulet / muntir atau malah pecah (pamengkang jagad). Suhu pemanasan kurang, keris tidak menjadi keras. Terlalu panas, keris jadi lunak karena terjadinya decarburizing / unsur karbon keluar dari besi. Bila proses terakhir ini gagal, maka keris indah yang sudah jadi itu pun pasti dibuang.


Memasukkan racun dalam keris saat penyepuhan (nyepuh wisa) dilakukan dengan mencampur minyak kelapa yang digunakan sebagai media pencelupan dengan ramuan racun yang mengandung bisa ular atau serangga beracun. Namun menggunakan senjata beracun, baik jaman dahulu maupun sekarang, dianggap sebagai tindakan yang tidak ksatria dan pengecut. Dalam mempersiapkan cairan warangan, pilihlah serbuk / gumpalan kristal warangan alami yang berwarna ungu tua kemerahan. Tumbuk sampai halus sekali lalu larutkan dalam air perasan jeruk nipis murni yang sudah disaring bersih. Larutan tersebut sebaiknya disimpan dahulu / dituakan selama 6 bulan sebelum dipakai. Ciri-ciri larutan yang sudah jadi adalah warnanya menjadi kecoklatan / kehitaman. Tidak dianjurkan menggunakan arsenikum kimiawi dari apotik / toko kimia karena kadarnya terlalu tinggi / murni sehingga terlalu keras efeknya. Bilah keris akan mudah kebrangas (terlalu hitam / gosong) pada saat diwarangi sehingga jelek dilihat. Selain itu bila penanganan zat beracun tersebut tidak hati-hati dapat menimbulkan bahaya.


Marangi sebaiknya dilakukan di atas sebuah wadah untuk menampung tetesan cairan warangan. Masukkan kembali tetesan tersebut ke dalam botol penyimpan cairan warangan, jangan sembarangan dibuang. Cucilah wadah penampung dengan air yang mengalir.


7. Angin-anginkan keris dengan posisi berdiri (gunakan rak) agar pembentukan lapisan senyawa oksida besi-arsenik bisa sempurna

Pada proses mengangin-anginkan, keris jangan terkena sinar matahari langsung (bisa kebrangas / gosong), namun pilih saat matahari cerah / tidak mendung. Waktunya kira2 jam 9-11 pagi atau jam 2-4 sore.

Perhatikan kontras warna yang terbentuk pada permukaan bilah keris. Bila tingkat kontras yang diinginkan sudah tercapai, lanjutkan ke proses selanjutnya.


8. Setelah pengangin-anginan dianggap cukup, bilas lagi keris dengan air mengalir

Namun dalam membilas, jangan disemprot dengan tekanan air yang tinggi atau digosok-gosok / disentuh tangan telanjang. Pembilasan dimaksudkan untuk menghentikan reaksi kimia antara besi dan warangan sehingga keris tidak terlalu hitam / gosong.


9. Keringkan Keris  

Keringkan lagi sampai betul-betul kering dengan menekan-nekan bilah (jangan digosok) dengan kain bersih secara lembut lalu diangin-anginkan, Ingat, jangan sampai disentuh dengan tangan telanjang lagi.


10. Olesi keris dengan minyak (minyak'i) secara tipis dan merata menggunakan kuas

Dalam meminyaki, jangan sampai keris terlalu basah. Serap kelebihan minyak dengan kain bersih yang ditekan-tekan di permukaan keris (jangan digosok-gosok). Setelah itu keris diangin-anginkan semalaman dengan posisi berdiri (gunakan rak) agar bila ada kelebihan minyak dapat menetes / mengalir turun.


Minyak yang digunakan dalam meminyaki keris tidak dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang menghuni keris tersebut. Melainkan sebagai pelindung tambahan, diluar lapisan warangan, yang mengisolasi bilah pusaka dari kontak dengan udara. Seperti yang diketahui karat atau korosi muncul akibat reaksi logam, oksigen, dan air. Udara yang lembab di daerah tropis seperti di Indonesia (kelembaban 70-90%), mengandung uap air yang tinggi kadarnya sehingga meningkatkan resiko korosi. Namun bila logam diisolasi agar tak bersentuhan langsung dengan udara dengan cara dilapisi minyak, maka resiko korosi dapat dicegah.

Minyak Untuk Mencegah Karat Keris

Minyak Untuk Mencegah Karat Keris

Minyak terbaik untuk meminyaki pusaka adalah minyak senjata (minyak untuk melumasi komponen2 mekanis senjata api). Namun bila sulit memperolehnya dapat digantikan dengan minyak Singer (pelumas untuk mesin jahit). Untuk memperbaiki aroma minyak senjata atau minyak Singer, agar pusaka baunya wangi, dapat ditambahkan sedikit (10%) minyak alami yang terbuat dari bunga, kayu, atau akar tumbuhan yang wangi (seperti minyak melati, mawar, cendana, gaharu, akar wangi) diaduk rata sebelum dipakai.


Jangan pernah menggunakan minyak yang bersifat kental dan lengket seperti minyak misik (minyak kemenyan) atau minyak wangi Arab lain yang bersifat seperti itu. Minyak seperti itu akan menimbulkan kerak yang lengket dan mengeras pada permukaan bilah dan bagian dalam warangka. Kerak tersebut sangat sulit dibersihkan dan bisa membuat keris sulit dicabut dari warngkanya. Pada akhirnya kerak tersebut akan menimbulkan kerusakan pada bilah keris.


11. Masukkan kembali pusaka ke warangkanya. Simpanlah di tempat yang kering dan tidak lembab

Dalam hal memasang ukiran atau gagang keris, biasanya lubang pada ukiran lebih besar dari pesi keris. Hal ini dimaksudkan supaya pesi tidak rusak karena dipaksakan masuk. Agar genggamannya pas dan keris tidak mudah lepas dari gagangnya, pesi dililit dengan benang, carik kain seperti pita, atau boleh menggunakan potongan koran selebar panjang pesi kurang sedikit, sebelum dimasukkan ke lubang ukiran.


Cara memasukkannya adalah dengan diputar berlawanan arah lilitan sambil ditekan masuk. Saat menekan pesi untuk masuk harus terasa seret. Bila tidak artinya lilitannya kurang dan keris akan mudah lepas dari ukiran. Setelah pesi masuk sempurna, sambil tetap ditekan, balik arah putaran sambil mengepaskan posisi bilah terhadap ukiran. Dengan demikian lilitan, yang tadi diameternya mengerut karena putaran, kembali mengembang dan mengunci pesi dalam lubang ukiran.


Tidak dianjurkan memegang2 bilah pusaka dengan tangan telanjang. Hal ini bukan karena dikhawatirkan racun arsenik akan menempel pada tangan sehingga menyebabkan keracunan namun justru karena membahayakan kelestarian keindahan bilah pusaka tersebut. Pada permukaan telapak tangan selalu terdapat minyak / lemak yang berasal dari keringat atau barang / makanan yang dipegang sebelumnya. Bila kita memegang bilah pusaka dengan tangan telanjang, minyak / lemak pada tangan kita akan menempel pada permukaan bilah (sidik jari). Hal itu akan mempermudah atau memicu munculnya karat. Selain itu dikhawatirkan lapisan senyawa oksida besi-arsenik dan lapisan minyak, yang tipis sekali, dipermukaan bilah akan terhapus bila sering dipegang2 sehingga perlindungan terhadap karat hilang.


Jangan terbiasa meletakkan bunga segar di dekat bilah pusaka (sesaji atau caos dahar). Uap air yang keluar dari bunga dalam proses mengering meningkatkan kelembaban udara, bersifat tajam dan dapat menimbulkan karat yang merusak bilah pusaka.


Kebiasaan mengasapi keris dengan asap bakaran kemenyan (nguthuki menyan) juga seharusnya tidak perlu dilakukan. Asap kemenyan dapat terakumulasi di permukaan keris dan membentuk kerak yang sulit dibersihkan.


Sesungguhnya mencuci dan mewarangi keris tidak harus selalu dilakukan setiap tahun atau dalam jangka waktu tertentu. Karena proses tersebut sedikit banyak akan mengikis permukaannya sehingga dapat merusak keris dalam kurun waktu tertentu bila dilakukan terlalu sering.


Mencuci atau memandikan keris seyogianya dilakukan bila bilah keris terindikasi mulai berkarat atau tebal keraknya. Namun bila pemilik keris memiliki pengetahuan yang baik dalam hal perawatan keris seharusnya mampu memperpanjang interval pencucian keris tersebut.


Bila keris belum berkarat, sebaiknya yang perlu dilakukan dalam 6 bulan atau 1 tahun sekali hanyalah meminyakinya. Sehingga interval waktu pencucian dapat diperpanjang hingga 3 tahun sekali.


Perlu diketahui mewarangi keris hanya perlu dilakukan bila keris dicuci. Bila keris tidak dicuci tapi diwarangi maka tidak ada gunanya. Karena cairan warangan akan terhalang lapisan minyak sehingga tidak bisa bereaksi dengan besi / permukaan keris.


Dengan pengetahuan akan cara – cara perawatan yang tepat, diharapkan keris – keris kuno yang banyak tersebar di tengah – tengah masyarakat dapat terpelihara kelestarian dan keindahannya. Sehingga dalam jangka ratusan tahun ke depan, generasi penerus bangsa ini masih dapat menyaksikan bukti sejarah pencapaian budaya nenek moyangnya.


E. Tentang Warangan


Warangan

Warangan

Warangan adalah sejenis racun, istilah ilmu kimianya arsenicum. Warangan ini tergolong jenis racun yang kuat. Orang awam selain mengenalnya sebagai bahan untuk mewarangi keris, juga menggunakannya untuk racun tikus. Begitu kuat racun warangan ini, sehingga seandainya ada tikus yang mati karena makan racun warangan, dan bangkai tikus itu dimakan kucing, maka kucingnya juga akan mati.


Karena sifat racunya yang kuat inilah maka kita harus menyimpan dan menggunakannya secara hati-hati. Jaman sekarang, kalau kita membeli warangan, biasanya si penjual akan membungkusnya dengan pembungkus plastik. Simpanlah warangan itu, tetap dalam bungkus plastik, jika kita tidak akan segera menggunakannya. Tempatkan warangan yang terbungkus plastik itu pada sebuah cupu, atau botol kecil berleher lebar, atau plastik bekas tempat pil. Tutuplah rapat-rapat, kalau perlu perkuatlah tutup itu dengan solatip atau kertas perekat.

cairan warangan

cairan warangan

Tuliskanlah kata : "RACUN", pada tempat penyimpanan warangan itu, kalau perlu bubuhi pula tanda "Racun" berupa tengkorak dengan silang tulang dibawahnya. Jangan menempatkan tempat racun warangan itu di dapur, apalagi dekat tempat masak. Jangan pula menaruhnya dekat dengan obat-obatan di kotak obat. Sebab kalau sampai salah ambil berbahaya.


Tempat yang paling baik dan paling aman untuk menyimpan warangan adalah di dekat penyimpanan keris. Seandainya tempat penyimpanan keris  itu di lemari pakaian, maka rekatkanlah botol atau tempat penyimpanan warangan itu di dinding lemari, dekat dengan keris-keris yang disimpan. Untuk merekatkannya, dapat digunakan plester atau solatip.


Jangan menyimpan warangan di tempat yang terbuat dari bahan logam. Karena oksidasi, warangan dapat bereaksi secara kimiawi dengan tempat yang terbuat dari lagam itu, sehingga mutu warangan bisa berubah dan menjadi kurang baik untuk digunakan mewarangi keri. Tempat terbaik untuk digunakan menyimpan warangan adalah yang  terbuat dari gelas atau kaca atau beling.

0 Response to "Manjamas dan Mewarangi Pusaka"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel